REJEKI TIDAK PERNAH TERTUKAR

Rejeki Tidak Pernah Tertukar. Setelah shalat zuhur, saya menngajak isteri ke kantor Mumtaz Aqiqah. Karena banyak kesibukan di Jakarta, cukup lama saya gak datang ke kantor Mumtaz. Makanya hari ini saya sempatkan untuk nongkrongdi kantor, setelah kemarin selama tiga hari saya bertugas di Pulau Seribu.

Rejeki Tidak Pernah Tertukar
Rejeki Tidak Pernah Tertukar

Di kantor sudah ada tamu, seorang kawan yunior sesama pebisnis aqiqah. Dia biasa berkunjung ke Mumtaz, atau paling tidak seminggu sekali kami ngopi bareng di warung-warung kopi yang menjamur di sekitar kantor Mumtaz. Biasanya kami ditemani satu atau dua pebisnis aqiqah lainnya yang letak kantornya tidak jauh dari kantor Mumtaz. Di pasar terbuka kami bersaing, tapi di pergaulan sehari-hari, kami teman ngopi yang militan.

Kami biasa mengobrolkan apa saja, terutama perkembangan dunia aqiqah, berita updatenya, gosip-gosipnya, sampai mengulik dapur masing-masing. Kita santai-santai aja. Gak ada yang perlu ditutup-tutupi. Kita percaya, rejeki sudah diatur, sudah ada yang bagiannya. Kalau pun kita berusaha mati-matian mencari konsumen, itu hanya syarat saja yang harus kita lakukan sebagai manusia. Urusan hasilnya kita percaya Allah sudah atur semuanya.

Rejeki Tidak Pernah Tertukar

Sejak Pukul 3, hujan sudah turun cukup deras. Pukul empat sore, perangkat android saya berdering. Suara di seberang sana menanyakan alamat Mumtaz Aqiqah. Dari suaranya, tampak suami isteri ini sudah putus asa mencari alamat kantor kami. Mereka berbicara di HP-nya bergantian.

“Empat ratus meter dari situ Ibu. Sebelum turunan, sebelah kanan, itu ada plang Mumtaz Aqiqah. Diseberangnya ada Service somputer,” kata saya, sambil menjelaskan dengan menyebut nama-nama tempat yang akan dia lewati untuk sampai ke kantor kami.

Di bawah guyuran hujan, alhamdulillah sepasang suami isteri dengan seorang anak lelakinya itu sampai di kantor kami. Tidak sampai tiga menit. Jaraknya memang sudah dekat. Mungkin karena bingung saja sudah lama tidak lewat di sekitar kantor kami membuat dia kesasar mencarinya.

“Saya cari dari jam satu Pak, kok gak ketemu-ketemu? Kami sudah muter-muter, sampai makam Pahlawan, bahkan sampai ke aqiqah lain. Tapi kami tahu, itu bukan Mumtaz Aqiqah. makanya saya cari terus. Saya telp dua nomor pertama di brosur ini, tapi gak nyambung. sudah gak aktif ya? Untungnya yang ketiga aktif,” cerita isterinya sambil menyodorkan brosur Mumtaz versi lama. Sang suami mengamini cerita isterinya dengan anggukan.

Rejeki Tidak Pernah Tertukar

Setelah melihat-lihat brosur Mumtaz Aqiqah terbaru yang saya sodorkan, sepasang suami itu langsung memutuskan pilihan. Dua ekor kambing untuk aqiqah anak yang laki-laki yang datang bersama mereka. Dia minta pesanan dikirim besok.

“Kalau begitu, kita potong sekarang ya Bu. Ibu dan Bapak bisa langsung menyaksikan,” ajak saya.

Pertemuan itu akhirnya diakhiri dengan pemotongan secara langsung, on the spot, dua ekor kambing yang dia pesan untuk dikirim ke rumahnya di bilangan Margonda Depok, besok.

Begitulah rejeki datang kepada kita. Meskipun sepasang suami isteri dan anaknya ini sudah hampir putus asa mencari kantor kami, tapi jika mereka memang diutus Allah untuk mengantar rejeki buat kita, insya Allah orang itu akan sampai juga. Wallahu a’lam.

Artikel lain: Aqiqah Terbaik di Depok

Rejeki Tidak Pernah Tertukar