sejarah aqiqah

Aqiqah sudah dikenal masyarakat Arab sejak zaman pra-Islam. Mereka sudah punya tradisi unik menyembelih hewan ternak untuk menyambut kelahiran seorang anak. Hanya saja, pelaksanaannya tentu berbeda, karena masyarakat pra-Islam masih melaksanakan praktek-praktek yang kotor dari pelaksanaan aqiqah, seperti melumuri kepala bayi dengan darah heewan yang dipotong.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud, disebutkan:

كُنَّا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا وُلِدَ ِلاَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَ لَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا، فَلَمَّا جَاءَ اللهُ بِاْلاِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَ نَحْلِقُ رَأْسَهُ وَ نَلْطَخُهُ بزَعْفَرَانٍ. ابو داود

Buraidah berkata, “Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 107, no. 2843] #Sejarah Aqiqah

sejarah Aqiqah

Sejarah Aqiqah

Hadits Riwayat Ibnu Hibban

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانُوْا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا عَقُّوْا عَنِ الصَّبِيّ خَضَبُوْا قُطْنَةً بِدَمِ اْلعَقِيْقَةِ. فَاِذَا حَلَقُوْا رَأْسَ الصَّبِيّ وَضَعُوْهَا عَلَى رَأْسِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِجْعَلُوْا مَكَانَ الدَّمِ خَلُوْقًا. ابن حبان

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka beraqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah (hewan) aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah darah itu dengan minyak wangi.” [HR. Ibnu Hibban juz 12, hal. 124, no. 5308]

Ketika Islam datang, syari’at Islam tidak menghapus begitu saja suatu bentuk praktik-praktik tertentu dalam masyarakat, tetapi membuat ulang praktik tersebut sehingga lebih baik, dengan tujuan, niat, tata cara yang diperbaharui dan motivasi karena Allah Ta’ala. Ibadah zakat, haji, ibadah qurban, bahkan puasa pun dihadirkan oleh Allah dengan karakteristik seperti itu. Allah membuat praktiknya menjadi semata-mata karena Allah, sehingga menghilangkan unsur syiriknya dan berganti menjadi pengabdian (ibadah) lillahi ta’ala.

(Ibnu Malik)