maksud kata “tergadai” dalam hadits tentang aqiqah

Dalam beberapa riwayat hadits disebutkan, bahwa “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya…”

Dua hadits di bawah ini adalah contohnya. Satu hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan satu hadtis lainnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

Hadits Riwayat Abu Daud:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى. ابو داود 3: 106، رقم: 2838

Dari Samurah bin Jundab, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak tergadai (tergantung) dengan aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke-7, di hari itu ia dicukur rambutnya dan diberi nama.” [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 106, no. 2838]

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

عَنْ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ. تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَ يُحْلَقُ رَأْسُهُ وَ يُسَمَّى. ابن ماجه 2: 1056، رقم: 3165

Dari Samurah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke-7, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1056, no. 3165]

Lalu, apakah makna kata ‘tergadai’ yang ada dalam hadits di atas?

Al-Khaththabi Rahimahullah berkata,  “(Imam) Ahmad berkata, Ini mengenai syafaat. Beliau menghendaki bahwa jika si anak tidak diaqiqahi, lalu anak itu meninggal waktu kecil, dia tidak bisa memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya.” [Ma’alimus Sunan 4/264-265, Syarhus Sunnah 11/268]

Syaikh Muhammad bin Solih Al-Utsaimin menjelaskan maksud hadits diatas. Beliau mengatakan, “Sebagian ulama mengartikan kalimat ‘Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya’ bahwasanya aqiqah adalah sebab anak tersebut terlepas dari kegelisahan dalam maslahat agama dan dunianya. Hatinya akan begitu lapang setelah diaqiqahi. Jika seorang anak tidak diaqiqahi maka keadaannya akan selalu gelisah layaknya orang yang berhutang  dan menggadaikan barangnya. Inilah pendapat yang lebih tepat tentag maksud hadits tersebut. Jadi, aqiqah adalah sebab seorang anak akan mendapatkan kemaslahatan, hatinya pun tidak begitu gelisah dan semakin mudah dalam beraktivitas.” Wallahu a’lam!

HUKUM MENGAQIQAHKAN BAYI YANG KEGUGURAN

JASA AQIQAH DEPOK, JASA AQIQAH BOGOR, JASA AQIQAH JAKARTA

Tidak semua bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya bisa menikmati kehidupan sampai usia dewasa. Allah SWT. telah menetapkan ajal dan kematian setiap orang. Ada bayi-bayi yang meninggal bukan saja setelah ia tumbuh menjadi dewasa, tetapi bisa saja, begitu ia dilahirkan, Allah langsung mengambil kembali nyawanya, sehingga si bayi lahir dalam keagaan keguguran.

Lalu, apakah seorang bayi yang lahir keguguran tetap diaqiqahkan?

Kita tahu bahwa aqiqah adalah ibadah sunnah berupa pemotongan kambing atau domba sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang bayi, yang dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran sang bayi. Lalu bagaimana jika si jabang bayi yang dilahiran itu meninggal atau keguguran pada saat dilahirkan?

Dalam buku Panduan Fiqih Qurban dan Aqiqah karangan Muhammad Abduh Tuasikal (Terbitan Pustaka Muslim, 2014) disebutkan, bahwa Syekh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin ra. pernah ditanya tentang hukum bayi yang ketika dilahirkan langsung meninggal dunia, apakah tetap disunnahkan aqiqah atau tidak?

Syekh Muhammad bin Sholig Al-‘Utsaimin menjawab, “Jika bayi dilahirkan setelah bayi dalam kandungan sempurna empat bulan, ia tetap diaqiqahi dan diberi nama, karena jabang bayi yang telah mencapai empat bulan sudah ditiupkan ruh dan ia akan dibangkitkan pada hari kiamat.

Dalam kesempatan lain, beliau menjawab, “Jika anak tersebut mati beberapa saat setelah kelahiran, ia tetap diaqiqahi pada hari ketujuh. Hal ini disebabkan anak tersebut telah ditiupkan ruh saat itu, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat. Dan diantara faedah aqiqah adalah seorang anak akan memberi syafa’at kepada kedua orang tuanya.

“Namun sebagian ulama berpendapat bahwa jika anak tersebut mati sebelum hari ketujuh, maka gugurlah aqiqahnya. Alasannya, karena aqiqah baru disyari’atkan pada hari ketujuh bagi anak yang masih hidup. Jika anak tersebut sudah meninggal sebelum hari ketujuh, maka gugurlah sunnah aqiqahnya. Akan tetapi barang siapa yang dicukupkan rizki oleh Allah SWT dan diberikan berbagai kemudahan, maka hendaklah ia menyembelih aqiqah. Jika tidak mampu, maka ia tidaklah dipaksa.”

Kesimpulannya, bayi yang keguguran tetap boleh diaqiqahkan jika orang tua si bayi memiliki kecukupan rizki untuk melaksanakannya. Akan tetapi, jika ia tidak mampu, maka tidak apa-apa jika ia tidak melaksanakannya. (Ibnu Malik)