KAPAN waktu  YANG afdhal untuk aqiqah

KAPAN waktu YANG afdhal untuk aqiqah

 Kapan Waktu  Yang Afdhal Untuk Aqiqah? Banyak orang yang bertanya, kapankan waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan ibadah aqiqah? Kalau kita mengacu kepada dalil-dalil yang berhubungan dengan aqiqah, maka waktu pelaksanaan aqiqah yang paling afdhal menurut hadits-hadits aqiqah adalah pada hari ketujuh dari hari kelahiran sang bayi.

Hadits Riwayat Abu Daud:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى. ابو داود 3: 106، رقم: 2838

Dari Samurah bin Jundab, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Tiap-tiap anak tergadai (tergantung) dengan ‘Aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke-7. Di hari itu ia dicukur rambutnya dan diberi nama“. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 106, no. 2838]

Ditetapkannya hari ketujuh adalah untuk memberikan waktu kepada orangtuanya untuk mempersiapkan keperluan aqiqahnya. selain itu juga memberikan waktu rehat yang cukup bagi ibunya yang baru melahirkan. Dengan begitu, keluarga yang baru menerima amanah berupa bayi tidak terburu-buru melaksanakan aqiqah.  Mereka diberi keluasan waktu hingga satu minggu untuk mempersiapkan ibada aqiqah puteranya.

 Kapan Waktu Yang Afdhal Untuk Aqiqah? 

Bagaimana cara menghitung hari ketujuh dari hari kelahiran sang bayi? Hari ketujuh dihitung dari mulai hari kelahirannya sebagai hari pertama sampai didapati hari ketujuhnya. Misalnya, si A lahir pada hari Senin jam 7 pagi, maka hari ketujuhnya jatuh pada hari minggu dalam minggu yang sama.

Jika si anak lahir setelah maghrib, maka hari pertamanya di hitung pada hari besoknya. Misal si B lahir pada hari Senin malam, pukul 19.00. Maka hari kelahirannya dihitung jatuh pada hari Selasa. Mengapa? karena dalam Islam hitungan hari dimulai pada saat masuk maghrib. Maka waktu pelaksanaan aqiqahnya jatuh pada hari Senin.

 

Kapan Waktu Yang Afdhal Untuk Aqiqah

Persoalannya, bagaimana jika aqiqah tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh? Misal karena orantuanya masih sibuk, atau karena mereka tidak punya cukup uang? Dalam masalah ini terdapat perbedaan  pandangan atau pendapat di kalangan para ulama.

Menurut ulama Syafi’i dan Hambali, waktu aqiqah dimulai dari hari kelahiran. Tidak syah aqiqah sebelum si bayi lahir, dan jika dilakukan sebelum si bayi lahir, maka  hewan aqiqahnya itu dianggap sebagai hewan sembelihan biasa.

Artikel lain: Daftar Harga Paket Aqiqah Mumtaz

Menurut Ulama Hanafiyah dan Malikiyah, waktu aqiqah adalah pada hari ketujuh dan tidak boleh sebelumnya. Ulama Malikiyah pun membatasi bahwa sudah gugur setelah hari ketujuh. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkan aqiqah sebelum usia baligh, dan ini menjadi tanggung jawab sang ayah.

Sedangkan ulama Hambali berpendapat bahwa jika aqiqah tidak dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disunnahkan dilaksanakan pada hari keempat belas. Jika tidak sempat lagi pada hari tersebut, boleh dilaksanakan pada hari kedua puluh satu.

Adanya perbedaan pandangan para ulama menunjukkan bahwa ada ulama-ulama yang bisa memaklumi adanya kesibukan atau ketidakmampuan orang tua dalam melaksanakan ibadah aqiqah pada hari ketujuh. Sehingga mereka membolehkan aqiqah dilaksanakan setelah hari ketujuh sesuai kesanggupannya, hingga usianya aqil baligh.

 

Kapan Waktu Yang Afdhal Untuk Aqiqah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *